Mengenal anak-anak adalah sangat unik dengan segala tingkah laku dan tindakannya yang khas pada suatu waktu tertentu. Seringkali orang tua beranggapan bahwa mengendalikan, membatasi, melarang, menuntut, atau menyangkal adalah benar asal dilakukan dengan beberapa cara yang cerdik sehingga anak melihatnya bukan sebagai suatu yang menolak dirinya, melainkan tingkah lakunya. Akan tetapi anak-anak tidak suka disangkal, dibatasi, atau dilarang oleh orang tua mereka, tidak peduli dengan jenis penjelasan apa yang menyertainya. Semakin keras perilaku orang tua terhadap anak kemungkinan besar yang terjadi adalah serangan balasan terhadap orang tua dalam bentuk hambatan, pemberontakan, kebohongan, kemarahan dan kekesalan.
Pada umumnya sifat anak yang seringkali nampak berpengaruh besar pada pribadi anak adalah sifat egosentris. Sifat ini umumnya muncul pada usia 15 bulanan atau saat anak sudah sadar akan keberadaan dirinya (self awareness). Sifat egosentris ini disebabkan karena belum berkembangnya proses berpikir anak dalam melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain. Jadi semua masalah akan dipandang dari sudut pandang dirinya sendiri.
Lantaran sifat egosentris ini anak balita selalu berpikir “here and now.” Bila ingin sesuatu harus didapat saat itu juga atau tidak mau menunggu. Misalnya, saat ia minta es krim anak tidak mau tahu caranya bagaimana yang penting ia mendapatkannya saat itu juga. Contoh lain, si kecil merebut mainan temannya. Meski temannya menangis, ia tidak peduli karena ia “berprinsip” “saya suka, saya mau, maka saya harus dapatkan”. Begitu juga dengan sifat anak yang mudah tersinggung dan marah-marah. Ini terjadi karena anak-anak masih belum bisa menerima pendapat dari orang lain ketika perbuatannya tidak sesuai dengan aturan.